18 October 2008


Orang yang berbahagia bukanlah orang yang memiliki hal-hal yang terbaik dalam hidupnya. Tapi adalah orang yang menjadikan setiap hal yang hadir dalam hidupnya adalah yang terbaik.


Sampai beberapa waktu yang lalu, kehidupan saya selalu dipenuhi dengan angan-angan, “Seandainya saya menjadi seperti si …”, “Seandainya saya punya …”, “Seandainya saya bisa …”, dan masih banyak lagi seandainya2 yang lain. Seakan-akan apapun yang ada dalam hidup saya, tak akan pernah bisa menjadi cukup baik untuk bisa saya syukuri. Saat salah satu “seandainya” tadi terkabul, tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mengucapkan syukur atas impian saya yang menjadi kenyataan. Karna bagi saya itu tak ada artinya dibandingkan dengan masih banyak lagi impian-impian lain yang masih belum terkabul.

Bukan berarti saya tidak bahagia dengan semua yang saya miliki. Namun lebih tepatnya saya tidak merasa cukup bahagia dengan semua itu. Akibatnya yang keluar dari hati dan mulut saya bukanlah ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Namun merupakan keluhan-keluhan dan harapan-harapan yang belum terpenuhi. Tapi bukankah itu hal yang wajar? Manusia memang makhluk yang tak pernah puas kan? Ya, memang benar. Kita adalah manusia yang tak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Selalu saja menginginkan yang lebih. Yang miskin ingin memiliki harta yang banyak, yang kaya ingin bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan harta-hartanya yang terlalu banyak, yang terkenal ingin hidup layaknya orang biasa, yang biasa-biasa saja ingin terkenal, dll. Sungguh begitu banyak realita yang menunjukan dan membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Apapun yang dimilikinya.

Namun bukan berarti kita harus mengikuti saja arus yang sudah ada, “Kalau memang manusia tidak pernah puas. Buat apa kita bersusah payah berusaha mensyukuri dan mencukupkan diri dengan apa yang ada? Kita kan manusia. Semuanya juga gitu.” Jangan sampai pemikiran seperti itu terlintas dalam benak kita. Kalau setiap orang yang ada di dunia ini berpikir demikian, saya yakin dunia ini adalah tempat yang sangat membosankan. Tanpa adanya suatu perubahan, tanpa adanya suatu perbedaan. Juga pastinya saat ini kita tidak bisa menikmati banyak hal yang bisa kita nikmati sekarang, salah satunya adalah lampu. Bayangkan saja jika Thomas Alfa Edison juga berpikiran yang sama dengan kita. “Toh sampai sekarang ga ada yang bisa ciptain lampu juga kok. Manusia memang sudah di desain untuk ga bisa nyiptain lampu mungkin. Ngapain aku repot-repot. “ Tapi untunglah dia tetap berusaha sekalipun belum pernah ada orang yang menciptakan lampu.

Saya rasa contoh diatas sudah cukup jelas bagi kita untuk tidak menghakimi sesuatu sebagai “kodrat” manusia yang sudah diciptakan oleh Penciptanya. Karna pastinya Dia tidak akan merancangkan sesuatu yang buruk untuk melekat dalam diri kita. Pencipta mana yang merancangkan suatu kesalahan pada ciptaannya? Jadi sebenarnya kitalah yang menjadi penyebab atas semua hal-hal buruk yang ada dalam diri kita. Kitalah yang memilih untuk membiarkan hal itu bertumbuh dan menggerogoti karakter baik yang dari padaNya. Karna kita yang Dia ciptakan adalah suatu desain yang tak terbatas. Dimana kita sendiri pun tidak tahu, sampai dimanakah kita dapat mengembangkan segala sesuatu.


Sebelum ditemukannya lampu, apakah orang-orang sudah tahu kalau seorang manusia bisa menciptakan lampu? Saya rasa tidak, karna yang namanya lampu saja juga mereka tidak tahu apa itu. Namun ternyata manusia bisa menemukan lampu. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Bukankah itu adalah hal yang luar biasa?

Rasa percaya bahwa di dalam diri kita terdapat sebuah bibit yang bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang sangat indah dan berguna, sangatlah penting untuk bisa kita miliki. Karna dengan begitu barulah kita dapat mensyukuri semua yang terjadi dan semua yang kita miliki dalam kehidupan ini. Kita bukan lagi terfokus pada apa saja yang belum kita miliki, apa yang belum ada dalam diri kita. Namun kita akan terfokus dengan apa saja yang ada di dalam diri kita, apa yang bisa kita kembangkan untuk memperbanyak lagi kapasitas diri kita. Dengan begitu, rasa syukur dan kebahagiaan pun akan datang menyapa kita. Percaya atau tidak, kebahagiaan itu datang bukan saat kita terus berjalan dan mencari-cari dimanakah dia berada, namun dia akan datang saat kita berhenti, melihat sekeliling kita dan menyapa dia yang ternyata berada begitu dekat dengan kita.